Mengelola Sampah, Menjaga Desa: Upaya Pengelolaan Sampah Oleh Mahasiswa KKN Undip di Desa Kalirandugede
Desa Kalirandugede, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal (31/07) – Persoalan sampah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Aktivitas rumah tangga, kegiatan masyarakat, hingga aktivitas ekonomi menghasilkan berbagai jenis sampah yang membutuhkan pengelolaan secara tepat. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro di Desa Kalirandu Gede menghadirkan rangkaian program kerja yang berfokus pada peningkatan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah, mulai dari membangun perilaku hidup bersih, mengenalkan pemilahan sampah, hingga memperkenalkan berbagai alternatif pemanfaatan sampah organik maupun anorganik.
Program pengelolaan sampah ini digagas dan dilaksanakan oleh tim KKN Universitas Diponegoro yang terdiri atas Ibrahim Manalu, Kayla Syafa Khairunnisa, Izzuki Hamada, Zayyan Akif Shalih, M. Aqil Zikrirrahman, Chelsea Ibtihal Nur Izzati, Inova Anisatul Ikrima, Intan Nabila Azhar, Nashwa Azzahra Gumay, dan Pasya Oduane. Rangkaian program ini sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui pendekatan yang berbeda sesuai sasaran dan jenis sampah, kesepuluh mahasiswa KKN berkolaborasi dalam menyusun kegiatan mulai dari survei pengelolaan sampah, edukasi PHBS dan pemilahan sampah, hingga pengenalan ecobrick, budidaya maggot, dan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC).

Rekapitulasi kegiatan pengelolaan sampah di Desa Kalirandu Gede
Mengawali dengan Memahami Kondisi Pengelolaan Sampah di Desa
Sebelum rangkaian edukasi dan praktik dilaksanakan, mahasiswa KKN terlebih dahulu melakukan survei pengelolaan sampah terhadap 90 rumah tangga di 18 RT Desa Kalirandu Gede. Survei menunjukkan bahwa meskipun kondisi lingkungan secara umum masih cukup bersih, kebiasaan pengelolaan sampah belum optimal, terlihat dari rendahnya kebiasaan memilah sampah dan masih tingginya praktik pembakaran sampah. Hasil survei tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan rangkaian edukasi dan pengolahan sampah yang disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat Desa Kalirandu Gede.

Kegiatan survei ke rumah warga dan lingkungan mengenai pengelolaan sampah
Membangun Kebiasaan Bersih Sejak Dini
Perubahan dalam pengelolaan sampah tentu tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan hidup bersih. Karena itu, rangkaian kegiatan juga menyasar anak-anak melalui edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di SDN Kalirandu Gede. Sebanyak 156 siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan yang dikemas melalui penyampaian materi, permainan, bernyanyi, tanya jawab, hingga praktik langsung Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).
Siswa dibagi ke dalam tiga kelompok berdasarkan jenjang kelas dan didampingi oleh mahasiswa KKN sebagai fasilitator. Melalui leaflet PHBS, siswa diperkenalkan pada berbagai kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga kebersihan diri, mengonsumsi makanan bergizi, beraktivitas fisik, menjaga kebersihan lingkungan, hingga membuang dan memilah sampah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik enam langkah CTPS secara langsung. Selain itu, poster enam langkah CTPS dipasang di area wastafel sekolah sebagai pengingat yang dapat digunakan siswa setelah kegiatan selesai.

Edukasi PHBS di SDN Kalirandu Gede
Dari Sampah yang Dipilah hingga Sampah yang Dimanfaatkan
Setelah masyarakat memahami pentingnya menjaga kebersihan, langkah berikutnya diarahkan pada kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya. Edukasi pemilahan sampah diberikan kepada dua kelompok sasaran dengan pendekatan yang disesuaikan. Kepada kelompok PKK, mahasiswa memperkenalkan tiga jenis tempat sampah berdasarkan jenisnya, yaitu tempat sampah untuk sampah organik, anorganik, dan residu. Edukasi ini bertujuan membantu masyarakat mengenali jenis sampah dan menentukan tempat pembuangan yang sesuai, sehingga sampah tidak lagi tercampur dan dapat dikelola berdasarkan karakteristiknya.

Edukasi pemilahan sampah pada ibu-ibu PKK
Sementara itu, edukasi pemilahan kepada siswa SD Kalirandu Gede dikemas melalui media poster yang memuat informasi mengenai jenis sampah, pemilahan sampah organik dan anorganik, serta penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juli–3 Agustus 2026 ini dilengkapi dengan pemasangan poster pada mading desa sebagai media edukasi yang dapat terus dimanfaatkan oleh anak-anak dan masyarakat. Penyampaian materi dilakukan secara sederhana dan interaktif agar dapat menyesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa.

Edukasi pemilahan sampah pada anak-anak di SDN Kalirandu Gede
Edukasi kemudian dilanjutkan dari sekadar mengenali jenis sampah menjadi praktik pemanfaatannya. Siswa kelas 5 dan 6 diajak membuat ecobrick secara berkelompok, dengan masing-masing kelompok terdiri atas empat orang. Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan pada salah satu cara memanfaatkan sampah plastik yang sulit terurai dengan mengolahnya menjadi ecobrick. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa bahwa sampah yang telah dipilah tidak selalu harus berakhir sebagai limbah, tetapi masih dapat dimanfaatkan kembali melalui cara yang sederhana dan kreatif.

Demonstrasi sampah anorganik melalui ecobrick
Sementara itu, untuk pengelolaan sampah organik, mahasiswa KKN memperkenalkan alternatif melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Kegiatan ini melibatkan dua mahasiswa dengan peran yang berbeda, yaitu penyampaian materi dan demonstrasi. Masyarakat diperkenalkan pada maggot, manfaatnya, serta potensinya dalam membantu mengolah sampah organik. Penjelasan tersebut kemudian dilengkapi dengan demonstrasi secara langsung agar masyarakat dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai penerapan budidaya maggot sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah organik.

Edukasi dan demonstrasi sampah organik melalui budidaya maggot
Alternatif lainnya diperkenalkan melalui program Pupuk Organik Cair (POC) yang tidak hanya berfokus pada proses pembuatannya, tetapi juga pada potensi pengembangannya. Salah satu mahasiswa bertugas membuat POC sekaligus menyampaikan materi mengenai bahan, proses, dan tahapan pembuatannya kepada masyarakat. Untuk mendukung keberlanjutan edukasi, mahasiswa lainnya menyusun booklet POC yang berisi informasi dan panduan pembuatan sehingga dapat digunakan kembali oleh masyarakat setelah kegiatan berlangsung. Sementara itu, anggota lainnya mengembangkan konsep POC sebagai produk yang berpotensi dibranding dan dipasarkan kepada petani, sehingga hasil pengolahan sampah organik tidak hanya berhenti sebagai produk untuk penggunaan pribadi, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai guna dan ekonomis bagi masyarakat.

Edukasi dan demonstrasi sampah organik melalui POC
Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Desa Kalirandu Gede dapat dilakukan melalui pendekatan yang saling melengkapi. Sampah anorganik diarahkan untuk dipilah dan dimanfaatkan melalui ecobrick, sementara sampah organik diperkenalkan untuk diolah melalui budidaya maggot maupun POC. Seluruh rangkaian kegiatan berangkat dari hasil survei dan kemudian diterjemahkan menjadi edukasi, praktik, serta pengembangan produk yang dapat diterapkan sesuai kondisi masyarakat.
Upaya tersebut sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Lebih dari sekadar mengajarkan cara membuang sampah dengan benar, rangkaian program ini berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah—dari sesuatu yang harus segera disingkirkan menjadi sesuatu yang masih dapat dipilah, dimanfaatkan, dan diolah kembali.
Pada akhirnya, perjalanan pengelolaan sampah di Desa Kalirandu Gede menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah yang besar. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dari rumah dapat menjadi awal dari berbagai kemungkinan: plastik dapat dimanfaatkan menjadi ecobrick, sampah organik dapat mendukung budidaya maggot atau diolah menjadi POC, sementara pengetahuan yang diperoleh dapat terus diterapkan bahkan setelah program KKN berakhir. Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, langkah-langkah kecil tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun Desa Kalirandu Gede yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.